
Ratih masih berdiri terpaku setelah mendengar jawaban Raka. Dadanya naik turun, sementara matanya terus menatap wajah putranya seolah berusaha mencari tanda bahwa semua yang baru saja didengarnya hanyalah kesalahpahaman. Namun Raka tetap tenang. Tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan, bahkan tidak ada sedikit pun keterkejutan. Sikap itu justru membuat Ratih semakin takut. Selama ini ia mengira Raka adalah seorang pria yang akan hancur jika mengetahui perempuan yang dicintainya mengkhianatinya tepat sebelum pernikahan. Tetapi sekarang ia sadar bahwa Raka bukan korban dalam permainan itu. Ia sudah mengetahui semuanya sejak awal.
Raka kemudian meminta ibunya untuk tenang dan tidak mengatakan apa pun kepada para tamu. Ia menjelaskan bahwa beberapa minggu sebelumnya, ia menemukan sejumlah kejanggalan dalam hubungan Laras dengan seorang pria misterius. Pesan-pesan yang terhapus, pertemuan rahasia, dan beberapa rencana yang sengaja disembunyikan membuat Raka mulai curiga. Alih-alih membatalkan pernikahan, ia memilih diam dan mengamati. Ia ingin mengetahui seberapa jauh Laras dan orang-orang di belakangnya akan melangkah. Ratih mendengarkan dengan wajah pucat. Ia tidak percaya putranya mampu menyimpan rahasia sebesar itu sambil tetap menjalani semua persiapan pernikahan seolah tidak terjadi apa-apa.
Raka lalu mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan. Pernikahan itu bukan sekadar hubungan yang dimanfaatkan Laras untuk mendapatkan kekayaan keluarga Wiratama. Ada rencana yang lebih besar. Setelah resmi menjadi istri Raka, Laras seharusnya memperoleh akses terhadap sejumlah aset keluarga dan dokumen penting yang selama ini berada dalam pengawasan Raka. Pria yang ditemui Laras ternyata bukan sekadar kekasih rahasia. Ia adalah seseorang yang membantu mereka menjalankan rencana tersebut. Ratih menutup mulutnya dengan tangan. Kini ia memahami mengapa Raka sengaja membiarkan acara tetap berlangsung. Ia tidak sedang mempertahankan pernikahan. Ia sedang menunggu saat yang tepat untuk membongkar seluruh permainan mereka.
Di sisi lain, suasana di dalam ballroom masih tampak sempurna. Para tamu elite berbincang dengan tenang, para fotografer menyiapkan kamera, dan keluarga besar menunggu dimulainya upacara. Tidak seorang pun menyadari bahwa di balik kemewahan tersebut, sebuah rahasia besar sedang menuju titik kehancurannya. Raka meminta Ratih tetap bersamanya. Ia mengatakan bahwa semua bukti sudah diamankan dan beberapa orang kepercayaannya sedang memastikan tidak ada dokumen atau aset keluarga yang bisa dipindahkan. Ratih menatap putranya dengan campuran rasa takut dan bangga. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ketenangan Raka sejak pagi bukanlah ketidakpedulian, melainkan keyakinan bahwa kebenaran akan segera muncul.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Laras muncul dari ruang tunggu dengan gaun pengantin yang sempurna, tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berjalan menuju ballroom dengan penuh percaya diri. Namun ketika matanya bertemu dengan Raka, senyumnya perlahan berubah. Ada sesuatu dalam tatapan Raka yang membuatnya berhenti sesaat. Raka tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatapnya dengan tenang. Laras mencoba kembali tersenyum, tetapi wajahnya mulai tegang. Ratih berdiri di samping Raka dan menyadari bahwa putranya sedang menunggu Laras membuat langkah berikutnya sendiri.
Ketika upacara hendak dimulai, Raka akhirnya bergerak maju. Di hadapan keluarga dan para tamu, ia meminta semua orang tetap berada di tempat. Suasana langsung menjadi sunyi. Laras menatapnya dengan bingung, lalu bertanya mengapa acara dihentikan. Raka tidak menjawab dengan emosi. Ia hanya mengatakan bahwa sebelum mengucapkan janji pernikahan, ada satu hal yang harus diketahui semua orang. Beberapa bukti kemudian diperlihatkan, cukup untuk membuat wajah Laras kehilangan warna. Ratih menatap putranya dengan napas tertahan. Rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka di depan semua orang, dan Laras tidak lagi memiliki ruang untuk berpura-pura.
Laras mencoba menjelaskan semuanya, tetapi tidak ada lagi yang percaya. Raka tetap berdiri dengan tenang dan mengatakan bahwa ia tidak akan menikahi seseorang yang sejak awal menjadikan pernikahan sebagai jalan untuk menghancurkan keluarganya. Ia tidak membalas pengkhianatan dengan kemarahan. Ia hanya membatalkan pernikahan dan menyerahkan seluruh bukti kepada pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti. Ratih akhirnya menggenggam tangan putranya, masih terkejut dengan semua yang terjadi. Hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru berubah menjadi hari ketika sebuah rencana jahat terbongkar. Raka menatap lorong kosong menuju ruang pengantin dan kemudian berjalan pergi bersama ibunya. Di belakang mereka, kemewahan pesta perlahan kehilangan maknanya. Pernikahan itu memang tidak pernah menjadi kisah cinta. Sejak awal, itu adalah sebuah jebakan—dan pada akhirnya, justru orang yang memasang jebakanlah yang terperangkap di dalamnya.






