
Ayahnya tetap berdiri di ambang pintu, tidak langsung masuk, tetapi wibawanya sudah memenuhi seluruh ruangan. Dua polisi di belakangnya menatap lurus ke depan, membuat sang suami dan ibunya semakin kehilangan keberanian. Perempuan muda itu masih duduk di lantai, tubuhnya basah kuyup, rambut menempel di pipi, dan bekas memar di wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya siang. Sang ayah mengepalkan tangan, tetapi suaranya tetap terkendali saat ia berkata, “Jawab. Siapa yang menyentuh anak saya?” Tidak ada yang berani menjawab. Hanya suara tetesan air kotor yang jatuh ke lantai terdengar di tengah keheningan.
Sang suami mencoba mengangkat wajah, tetapi matanya langsung turun lagi ketika bertemu tatapan ayah mertuanya. “Pak… saya…” suaranya patah sebelum bisa membentuk kalimat. Ibunya yang tadi begitu angkuh kini berdiri kaku di dekat pintu, bibirnya bergetar. Ia berusaha tersenyum lemah, seolah masih bisa menyelamatkan keadaan. “Ini hanya masalah rumah tangga, Pak. Jangan dibesar-besarkan…” Belum selesai ia bicara, ayah itu menatapnya tajam. “Masalah rumah tangga?” katanya pelan. “Kalian menyiram anak saya dengan air kotor. Kalian meninggalkan memar di tubuhnya. Itu bukan rumah tangga. Itu kekerasan.”
Perempuan muda itu akhirnya menangis lebih keras, bukan karena takut, tetapi karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan kebenaran dengan suara lantang. Ayahnya menoleh kepadanya, dan wajahnya yang keras tiba-tiba retak oleh rasa sakit. “Nak, berdiri pelan-pelan. Ayah di sini.” Salah satu polisi segera mengambil selimut dari luar dan memberikannya kepada sang ayah. Ia membungkus bahu putrinya dengan hati-hati, seakan tubuh rapuh itu adalah sesuatu yang paling berharga di dunia. Sang suami melihat pemandangan itu dengan wajah pucat, menyadari bahwa semua kekuasaan kecil yang ia gunakan untuk menakut-nakuti istrinya sudah hancur dalam satu detik.
Ibu mertua mulai panik. “Pak, saya tidak tahu dia anak Bapak…” katanya terbata-bata. Kalimat itu membuat sang ayah menatapnya lebih dingin lagi. “Jadi kalau dia bukan anak saya, kalian boleh memperlakukannya seperti ini?” Ruangan kembali sunyi. Perempuan tua itu kehilangan kata-kata. Sang ayah kemudian menoleh kepada polisi di belakangnya dan berkata tegas, “Catat semuanya. Foto luka-lukanya. Ambil pernyataan dari tetangga. Tidak ada yang keluar dari sini sebelum proses dimulai.” Mendengar itu, lutut sang suami hampir lemas. Ia menatap istrinya, berharap mendapat belas kasihan, tetapi perempuan itu hanya memegang selimut di bahunya dan menunduk.
Sang ayah memapah putrinya melewati ruang tamu, melewati sofa mahal, foto keluarga palsu, dan lantai yang masih basah oleh air kotor. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar lalu menoleh kepada menantunya. “Hari ini kamu bukan hanya kehilangan istri,” katanya dengan suara rendah. “Kamu kehilangan hak untuk menyakitinya lagi.” Sang suami berdiri terpaku, wajahnya hancur oleh ketakutan dan penyesalan yang datang terlalu terlambat. Ibu mertua menangis tanpa suara, tetapi tidak ada yang menoleh kepadanya. Pintu apartemen perlahan tertutup, meninggalkan mereka dalam ruangan dingin yang dulu mereka anggap aman. Untuk pertama kalinya, korban keluar dengan kepala terangkat, sementara para pelaku tertinggal bersama rasa takut mereka sendiri.





