
Pria itu masih berdiri terpaku di tengah ballroom, seolah suara musik dan percakapan seluruh tamu telah lenyap dari dunia. Tatapannya tidak lepas dari wajah gadis kecil di hadapannya. Foto lama yang baru saja ia lihat terasa seperti potongan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. Tangannya menggenggam kotak kecil itu semakin erat, sementara napasnya terdengar berat. Gadis itu hanya menunggu, memeluk dirinya sendiri karena merasa takut akan ditolak. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, pria itu berlutut agar wajah mereka sejajar. Dengan suara yang jauh lebih lembut, ia bertanya, “Siapa nama kamu?” Gadis itu menjawab pelan, “Namaku Alina.” Mendengar nama itu, wajah pria tersebut berubah. Nama itu pernah disebut oleh seorang perempuan yang sangat ia cintai bertahun-tahun lalu.
Tanpa memedulikan tatapan para tamu, pria itu meminta semua orang meninggalkan area tersebut. Para pelayan dan tamu mulai bergerak menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia kemudian mengajak Alina duduk di sebuah sofa yang berada di sudut ballroom. Gadis itu masih memegang erat surat peninggalan ibunya. Pria tersebut memperhatikan tulisan tangan di amplop itu. Ia mengenal tulisan itu. Bahkan sebelum membuka suratnya, ia sudah mengetahui siapa yang menulisnya. Namun ia tidak langsung membacanya. Matanya kembali tertuju kepada Alina. Ada sesuatu pada bentuk mata, cara menundukkan kepala, dan senyum kecil gadis itu yang membuat ingatannya kembali pada masa lalu. Ia bertanya, “Ibumu pernah bercerita tentang aku?” Alina mengangguk. “Ibu bilang Ayah bukan orang jahat. Ibu cuma bilang keadaan membuat kalian berpisah.”
Pria itu menundukkan kepala. Bertahun-tahun sebelumnya, ia pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan bernama Maya. Hubungan mereka berakhir secara tiba-tiba setelah sebuah kesalahpahaman besar. Maya menghilang tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa pun. Ia pernah mencoba mencarinya, tetapi tidak pernah menemukan keberadaannya. Selama bertahun-tahun, ia mengira Maya telah memilih kehidupan lain. Tidak pernah sekalipun terpikir bahwa perempuan itu menyimpan seorang anak. Kini, semua kenangan yang selama ini terasa tidak lengkap mulai tersusun kembali. Ia teringat sebuah malam ketika Maya mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Namun sebelum mereka sempat bertemu lagi, Maya pergi. Pria itu menatap kotak kecil di tangannya dan berkata, “Kenapa ibumu tidak pernah membawamu kepadaku?” Alina menjawab dengan suara lirih, “Ibu bilang dia takut kalau Ayah tidak percaya padanya.”
Ia akhirnya membuka surat tersebut dengan tangan gemetar. Matanya bergerak perlahan membaca setiap baris. Tidak ada penjelasan panjang, hanya permintaan agar ia menjaga Alina dan mencari kebenaran sebelum membuat keputusan apa pun. Surat itu juga menyebut bahwa ada seseorang yang mengetahui alasan sebenarnya mengapa Maya pergi bertahun-tahun lalu. Pria tersebut berhenti membaca. Ia menatap Alina dengan ekspresi penuh kebingungan. “Siapa orang itu?” tanyanya. Alina menggeleng. “Ibu tidak bilang. Ibu cuma bilang ada seseorang yang menyimpan rahasia.” Pria itu kemudian membuka kembali kotak kecil tersebut. Di bawah foto lama, ia menemukan sebuah kunci kecil dan selembar kertas dengan alamat sebuah rumah tua di Jakarta Selatan. Ia mengenali alamat itu sebagai rumah yang pernah ditempati keluarga Maya. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Sementara itu, salah satu penjaga keamanan yang tadi mengejar Alina berdiri agak jauh dari mereka. Ia memperhatikan pria tersebut dengan wajah gelisah. Setelah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, ia mendekat. Pria itu menoleh dan bertanya, “Ada apa?” Penjaga tersebut menarik napas sebelum berkata, “Tuan, sebelum anak itu masuk, saya melihat seseorang menunggu di luar gerbang. Dia pergi begitu melihat anak itu berhasil masuk.” Pria itu langsung berdiri. “Seperti apa orangnya?” Penjaga itu menjawab, “Laki-laki. Usianya sekitar lima puluh tahun. Dia membawa map hitam dan terus melihat ke arah rumah.” Informasi itu membuat suasana kembali berubah. Pria tersebut segera meminta rekaman kamera keamanan diperiksa. Alina memandangnya dengan cemas. Ia lalu menggenggam tangan gadis kecil itu dan berkata, “Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghadapi semua ini sendirian.”
Beberapa menit kemudian, rekaman kamera keamanan menunjukkan sosok lelaki yang dimaksud berdiri di seberang jalan. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi gerak-geriknya tampak seperti seseorang yang sudah mengetahui kedatangan Alina sejak awal. Pria itu memperbesar gambar tersebut dan tiba-tiba mengenali jas yang dikenakan lelaki itu. Ia pernah melihat orang tersebut bertahun-tahun lalu, ketika hubungan dengan Maya mulai bermasalah. Ingatannya kembali pada percakapan lama tentang seseorang yang berusaha memisahkan mereka. Ia segera mengambil kunci dari kotak kecil dan memandang alamat di kertas sekali lagi. Alina berdiri di sampingnya, menunggu jawaban. “Apakah kita akan mencari tahu siapa dia?” tanyanya. Pria itu mengangguk. “Ya. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan satu hal.” Ia menatap Alina dengan mata berkaca-kaca. “Aku harus mengetahui kebenaran tentang malam ketika ibumu pergi.”
Malam semakin larut ketika ballroom yang sebelumnya dipenuhi kemewahan berubah menjadi tempat dimulainya sebuah pencarian. Pria itu membawa foto lama, surat, kotak kecil, dan kunci tersebut. Alina berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, gadis kecil itu merasa tidak sendirian. Namun ketika mereka hendak meninggalkan ballroom, pria tersebut kembali melihat foto lama itu. Di bagian belakang foto, yang sebelumnya tertutup oleh lipatan kertas, terlihat tulisan tangan yang hampir pudar: “Jika suatu hari dia menemukanmu, jangan percaya pada orang yang mengatakan bahwa kami berpisah karena cinta.” Pria itu membeku. Ia membalik foto tersebut dan membacanya sekali lagi. Wajahnya berubah penuh ketegangan. Ia kemudian menatap Alina dan berkata pelan, “Sepertinya ibumu meninggalkan lebih dari sekadar pesan.” Di luar mansion, sebuah mobil hitam perlahan meninggalkan jalanan Menteng. Di dalamnya, seorang pria membuka map hitam dan melihat foto Maya bersama seorang pria yang sama. Di bawah foto itu tertulis satu kalimat: “Jangan biarkan mereka menemukan kebenaran.”






