46ik Siapa yang Menyabotase Harley Milik Bos?

Posted Sep 27, 2026

Preview

Raka Pratama masih berdiri di depan Harley hitamnya dengan wajah yang berubah total. Beberapa menit sebelumnya ia berteriak tentang hadiah lima juta rupiah, tetapi sekarang matanya terus berpindah dari mesin ke wajah para mekanik dan biker yang mengelilinginya. Dimas tetap berjongkok di samping motor, memeriksa bagian yang tadi ia tunjukkan tanpa menyentuhnya lagi. Ia tampak tenang, seolah tidak terpengaruh oleh ketegangan yang mulai memenuhi bengkel. Biker yang sebelumnya mengejeknya kini berdiri beberapa langkah di belakang, tidak lagi tersenyum. Raka akhirnya mendekati Dimas dan berkata, “Kamu yakin seseorang sengaja melakukan ini?” Dimas mengangguk pelan. “Saya yakin, Pak. Bekasnya terlalu rapi untuk disebut kerusakan biasa.” Raka menatap motornya lama sekali. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan hadiah lima juta rupiah, melainkan siapa yang mungkin cukup dekat dengannya untuk menyentuh motornya tanpa menimbulkan kecurigaan.

Dimas kemudian meminta semua orang tetap di tempat dan tidak menyentuh Harley tersebut. Ia berdiri, lalu memeriksa area di sekitar motor. Di lantai beton yang penuh noda oli, ia melihat beberapa jejak kecil yang berbeda dari bekas sepatu para mekanik. Jejak itu mengarah ke bagian belakang bengkel, tepat menuju sebuah pintu besi yang biasanya digunakan untuk keluar masuk kendaraan. Dimas berjalan perlahan ke sana, sementara Raka mengikutinya dari belakang. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Ketika Dimas menyentuh gagang pintu, ia melihat goresan baru di sekitar lubang kunci. “Pintu ini baru dibuka,” katanya. Raka memperhatikan goresan itu dan bertanya, “Kapan?” Dimas menggeleng. “Saya tidak tahu. Tapi orang yang membukanya tidak ingin meninggalkan jejak.” Raka memandang kembali kerumunan. Beberapa orang menundukkan kepala, sementara yang lain pura-pura memperhatikan motor. Suasana yang tadinya hanya dipenuhi rasa penasaran kini berubah menjadi kecurigaan.

Dimas kembali ke Harley dan berjongkok di dekat roda belakang. Ia menemukan sepotong kecil kain hitam tersangkut di bagian logam. Kain itu tampak baru dan memiliki tekstur yang mirip dengan bahan jaket beberapa biker di sekitar mereka. Dimas mengambilnya dengan hati-hati dan menyerahkannya kepada Raka. Raka memegang benda itu tanpa berkata apa-apa. Ia kemudian melihat satu per satu jaket yang dikenakan orang-orang di sekelilingnya. Tidak ada yang berani bergerak. Biker yang sebelumnya mengejek Dimas perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dimas memperhatikannya sebentar, tetapi tidak menuduhnya. “Bisa saja kain ini milik siapa pun,” ujar Dimas. “Jadi jangan menuduh seseorang hanya karena terlihat mencurigakan.” Raka menatap pemuda itu dengan serius. Ia mulai menyadari bahwa Dimas bukan hanya pandai memperbaiki motor. Anak muda itu juga tahu bagaimana mencari kebenaran tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan.

Raka kemudian teringat sesuatu. Dua hari sebelumnya, ia menerima telepon tanpa nama yang hanya berisi suara seseorang yang mengatakan bahwa ia harus lebih berhati-hati terhadap orang-orang terdekatnya. Saat itu Raka menganggapnya sebagai lelucon. Namun sekarang, ia mulai menghubungkan semuanya. Ia memandang Harley tersebut dan berkata pelan, “Ada seseorang yang ingin menakut-nakuti saya.” Dimas menoleh. “Mungkin bukan cuma menakut-nakuti, Pak.” Raka mengerutkan kening. Dimas menunjuk bagian motor yang rusak. “Kalau tujuannya cuma membuat motor tidak menyala, caranya bisa jauh lebih sederhana. Orang ini sengaja memilih bagian tertentu supaya terlihat seperti kerusakan biasa.” Raka terdiam. Kalimat itu membuatnya semakin gelisah. Seseorang bukan hanya ingin menghentikan motornya, tetapi ingin memastikan tidak ada orang yang langsung menyadari bahwa telah terjadi sabotase.

Tiba-tiba Dimas melihat sesuatu di atas lemari perkakas. Sebuah kamera CCTV kecil terpasang di sudut bengkel, tetapi posisinya menghadap terlalu tinggi dan tidak lagi mengarah ke area Harley. Dimas menunjuk kamera itu. Raka langsung mendekat. “Kenapa kameranya berubah?” tanyanya. Tidak ada jawaban. Dimas melihat kabel kamera dan menemukan sambungannya masih utuh. “Tidak rusak,” katanya. “Seseorang hanya mengubah arahnya.” Raka memandang seluruh bengkel dengan wajah tegang. Ia kemudian bertanya siapa yang terakhir kali berada di bengkel sebelum para mekanik datang pagi itu. Tidak ada yang menjawab. Bahkan suara mesin dari jalan raya seakan terdengar lebih jauh. Biker yang mengejek Dimas menelan ludah dan mengalihkan pandangan. Raka memperhatikan gerakannya, tetapi Dimas segera menggeleng kecil, meminta Raka untuk tidak langsung menuduh.

Dimas kemudian memeriksa bagian bawah meja kerja dan menemukan sebuah benda kecil yang hampir tertutup debu. Ia mengambilnya dan membersihkannya dengan ujung kain. Benda itu ternyata sebuah kunci logam dengan tanda kecil yang tidak dikenalnya. Raka melihat kunci tersebut dan ekspresinya berubah. “Itu bukan kunci bengkel,” katanya. Dimas menatapnya. “Bapak tahu kunci ini?” Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil kunci itu dan menggenggamnya erat. “Saya pernah melihatnya.” Hanya itu yang ia katakan. Semua orang kembali saling memandang. Dimas sadar bahwa masalah ini mungkin jauh lebih besar daripada sebuah motor yang sengaja dibuat tidak bisa menyala. Namun sebelum ia bertanya lebih jauh, terdengar suara pintu besi di belakang bengkel bergerak pelan. Semua kepala langsung menoleh. Pintu itu masih tertutup, tetapi gagangnya bergerak sekali, lalu berhenti.

Raka berdiri kaku, sementara Dimas perlahan mundur dari pintu. Tidak seorang pun berani mendekat. Biker yang tadi mengejek Dimas kini terlihat pucat, tetapi tetap diam. Raka memandang kunci di tangannya, lalu ke arah pintu besi. Ia seolah menyadari bahwa kunci itu mungkin memiliki hubungan dengan sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui. Dimas kemudian berkata dengan suara rendah bahwa mereka sebaiknya tidak membuka pintu tersebut sebelum mengetahui siapa yang terakhir menggunakannya. Raka mengangguk. Harley hitam itu masih berdiri tanpa suara di tengah bengkel, belum berhasil dinyalakan dan masih menyimpan rahasia yang belum terungkap. Tidak ada yang tahu siapa yang melakukan sabotase, mengapa Raka menjadi sasaran, atau apa hubungan kunci itu dengan semuanya. Tetapi sejak saat itu, Raka tidak lagi melihat orang-orang di sekelilingnya sebagai sekadar mekanik dan teman. Seseorang di antara mereka mungkin mengetahui kebenaran. Dan orang itu masih berdiri di sana, diam, menunggu kesempatan berikutnya.

Comments (0)

Loading comments...

Indo