
Raka tetap berdiri di tengah ruang keluarga dengan tatapan terpaku pada liontin tua yang menggantung di leher Ayu. Beberapa detik terasa begitu panjang. Senyum hangat yang sebelumnya menghiasi wajahnya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi seseorang yang baru saja melihat sesuatu dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur. Ayu menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya, lalu menatap Raka dengan bingung. Dion dan Nara hanya memandang keduanya tanpa mengeluarkan suara. Raka akhirnya menarik napas panjang dan mencoba mengendalikan dirinya. Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti sebelum terlalu dekat. Matanya kembali tertuju pada liontin tersebut, seolah sedang memastikan bahwa ingatannya tidak sedang mempermainkannya. Liontin itu memiliki bentuk kecil seperti tetesan air dengan ukiran sederhana di tengahnya. Bertahun-tahun lalu, Raka pernah melihat benda yang hampir sama, tetapi ia tidak pernah menyangka akan melihatnya kembali di rumahnya sendiri.
Ayu perlahan memasukkan liontin itu ke balik kerah bajunya. Gerakannya sederhana, tetapi justru membuat Raka semakin gelisah. Ia teringat sebuah malam bertahun-tahun sebelumnya, ketika seorang perempuan muda pernah berdiri di depan rumah keluarganya sambil membawa seorang bayi dalam pelukannya. Wajah perempuan itu sudah lama memudar dari ingatannya, tetapi suara nyanyiannya masih tersimpan samar di kepalanya. Melodi yang baru saja dinyanyikan Ayu terasa persis sama. Raka menatap ke arah jendela, mencoba menyusun kembali potongan kenangan yang selama ini tidak pernah ia pahami. Ia teringat sebuah kotak kayu milik ayahnya yang pernah hilang setelah sebuah pertengkaran keluarga. Di dalam kotak itu, menurut ingatan Raka, pernah ada foto lama dan sebuah liontin dengan lambang yang sama. Namun sebelum ia sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, perempuan itu menghilang tanpa kabar.
Ayu kembali duduk di atas karpet, tetapi suasana hangat sebelumnya sudah tidak ada. Ia memperhatikan Raka dengan hati-hati, seolah merasakan bahwa pertanyaan tentang ibunya telah membuka sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Raka berusaha tersenyum agar tidak membuatnya takut, tetapi wajahnya tetap tegang. Ia kemudian bertanya dengan suara rendah, “Liontin itu sudah lama kamu miliki?” Ayu mengangguk perlahan. “Sejak saya kecil. Ibu bilang saya tidak boleh melepasnya.” Raka langsung terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi baginya terasa seperti sebuah peringatan dari masa lalu. Ayu tidak tahu mengapa pria yang biasanya tenang itu tiba-tiba terlihat begitu terguncang. Ia hanya tahu bahwa sejak menyebut tentang ibunya, tatapan Raka berubah. Sementara itu, Dion dan Nara kembali memainkan balok kayu mereka dengan diam, seakan merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak boleh mereka ganggu.
Raka kemudian berjalan menuju salah satu lemari kecil di sudut ruangan. Ia membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sebuah kunci tua yang sudah lama tidak digunakannya. Tangannya sedikit gemetar ketika melihat benda itu. Bertahun-tahun lalu, kunci tersebut pernah digunakan untuk membuka ruang penyimpanan pribadi milik ayahnya di bagian belakang rumah. Setelah kematian ayahnya, Raka tidak pernah masuk lagi ke ruangan itu. Ia bahkan sengaja menghindari semua benda yang berhubungan dengan masa tersebut. Namun sekarang, liontin Ayu dan lagu yang sama membuatnya merasa bahwa sesuatu yang belum selesai sedang kembali kepadanya. Ia menatap Ayu dan berkata, “Aku pernah melihat lambang itu sebelumnya.” Ayu terlihat semakin bingung. “Di mana?” tanyanya tanpa sadar. Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam kunci itu lebih erat dan menatap pintu menuju koridor belakang rumah.
Tanpa menjelaskan apa pun, Raka berjalan menuju koridor tersebut. Ayu berdiri dan mengikuti beberapa langkah di belakangnya, tetapi berhenti ketika Raka mengangkat tangannya, meminta agar ia tidak mendekat. Raka membuka sebuah pintu tua yang hampir selalu tertutup. Di dalamnya terdapat rak-rak kayu, kotak dokumen, album foto lama, dan beberapa benda keluarga yang tertutup debu. Cahaya sore masuk melalui jendela kecil dan menerangi sebuah kotak kayu hitam di atas meja. Raka mendekatinya dengan hati-hati. Kotak itu memiliki ukiran lambang yang sama dengan liontin Ayu. Ia membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa foto lama, selembar surat yang sudah menguning, dan sebuah foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi. Raka membeku. Ia mengambil foto itu, tetapi sebelum sempat melihat wajah bayi dengan jelas, Ayu tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Matanya tertuju pada foto tersebut, lalu pada liontin di lehernya.
Ayu tidak berkata apa-apa. Raka juga tidak. Keduanya hanya saling memandang dengan ketegangan yang semakin dalam. Raka membalik foto itu dan menemukan tulisan tangan yang hampir pudar di bagian belakangnya. Ia membaca beberapa kata pertama, lalu wajahnya berubah. Tangannya segera menutup bagian tulisan itu sebelum Ayu sempat melihatnya. Dari luar ruangan terdengar suara angin melewati taman, membuat tirai bergerak perlahan. Ayu menyadari bahwa Raka menyembunyikan sesuatu. “Pak Raka…” katanya pelan, tetapi Raka hanya menatapnya tanpa jawaban. Ia kemudian memasukkan kembali foto dan surat itu ke dalam kotak, tetapi satu benda kecil terjatuh ke lantai. Sebuah kunci kedua. Raka menunduk mengambilnya dan melihat ukiran yang sama pada kepala kunci tersebut. Kali ini ia tahu bahwa rahasia itu tidak hanya berkaitan dengan liontin Ayu, tetapi juga dengan sesuatu yang sengaja disembunyikan keluarganya selama bertahun-tahun.
Malam mulai turun ketika Raka kembali ke ruang keluarga dengan kotak kayu masih berada di tangannya. Ayu sudah tidak ada di sana, sementara Dion dan Nara sedang dibawa ke kamar oleh pengasuh lain. Raka berdiri sendirian di dekat jendela, lalu membuka kembali surat yang tadi ia sembunyikan. Matanya bergerak perlahan membaca kalimat yang tersisa. Wajahnya kembali berubah ketika menemukan satu tanggal yang sangat ia kenal. Tanggal itu bertepatan dengan malam ketika seseorang dari masa lalunya menghilang. Raka menutup surat tersebut dan menatap liontin yang kini terbayang jelas dalam ingatannya. Dari lantai atas terdengar samar suara Ayu menyanyikan kembali melodi lama itu, kali ini hanya beberapa nada sebelum berhenti. Raka menoleh ke arah tangga. Ia menggenggam kunci kedua erat-erat, tetapi tidak bergerak. Di luar jendela, lampu taman mulai menyala satu per satu. Rahasia tentang lagu, liontin, dan perempuan dari masa lalu itu masih belum terungkap, tetapi untuk pertama kalinya Raka tahu bahwa jawabannya mungkin selama ini berada sangat dekat dengannya.






